LIBURAN KE BALEREJO

matahari pagi, dilihat dr trayun kulonPada saat liburan khusus atau liburan akhir minggu, mari kita sedikit berpetualang pergi ke tempat peninggalan eyang-eyang kita di desa Balerejo, kecamatan Kebonsari, kabupaten Madiun.

ruang tengah dalem kulondalem kulon dari depanPerjalanan kita akan menarik kalau kita melalui  jalur gunung, yaitu dari Solo menuju Karanganyar, terus menanjak ke Tawangmangu, menanjak lagi ke Cemoro Sewu, kemudian turun melalui Sarangan (ada telaga), selanjutnya turun ke Magetan terus ke Gorang-gareng dan masuk desa Balerejo, kecamatan Kebonsari.

Dari Jakarta atau Bandung, (naik pesawat atau kereta api) kita turun atau berhenti di Solo. Kalau waktunya masih pagi, kita bisa langsung berangkat melalui jalan yang telah disebutkan  di atas, naik mobil tentu.  Mobil harus sehat, karena perjalanan penuh tanjakan yang lumayan asyik dan menantang.

Solo – Karanganyar

g.lawu, dilihat dr tawangmanguDengan mobil ditempuh sekitar 30 – 45 menit. Jalannya datar dan cukup ramai. Hati-hati, di Palur (pinggir Solo) ada pertigaan, nah, kita ambil yang lurus yang menyeberangi rel kereta api. Karena kalau kita belok kiri maka itu akan kearah Ngawi. (Sedang dibangun: Fly Over menyeberangi rel K A).

Karang anyar  – Tawangmangu

jalan twmangu-sarangan, the best road in java Dari Karanganyar ke Tawangmangu jalan mulai menanjak. Perlu perhatikan tanda-tanda petunjuk  tujuan (Tawangmangu). Sebelum Tawangmangu, kita akan melalui gerbang wisata, dan kita harus bayar karcis masuk daerah wisata (bisa juga tidak bayar, misalnya dengan mengatakan “kami mau ke magetan/madiun”). Tanjakan makin berat, setelah beberapa menit  kita memasuki daerah ramai tempat wisata, yang banyak hotel, losmen, villa dan restoran. Kalau mau mampir grojogan sewu (air terjun)  juga bisa.

Tawangmangu – Cemoro Sewu

sktr cemoro sewuKe arah Cemoro Sewu, Tanjakan semakin berat, gigi mobil masuk satu atau dua.  Pemandangan menarik, yaitu kita bisa melihat puncak gunung Lawu lebih dekat sehingga terlihat urat-urat punggungnya, juga bisa melihat lahan-lahan petani yang tersusun bagus sekali secara teras-teras yang dapat mengurangi erosi. Bilamana pas musim panen stroberi, dipinggir jalan dekat cemoro sewu ada yang berjualan buah stroberi. Buahnya tersusun rapi, bisanya yang gede di atas, yang kecil di bawah, jadi sepertinya gede semua. Sampai di Cemoro Sewu banyak warung-warung semi permanen dengan menyediakan kopi, teh, nasi goreng, mie instant, bahkan jagung bakar, asyik deh. Di Cemoro Sewu ada gerbang masuk untuk pendakian gunung Lawu,yang lumayan rame kalau malam minggu. Di daerah ini dengan mudah kita dapat menemui kamar mandi, toilet ataupun mushola. Tinggi tempat di sini kira-kira 1900 m dari muka laut.

Cemoro Sewu – Sarangan – Magetan – Gorang-Gareng – Balerejo

tlaga wahyu, dekat sarangan, diwaktu pagi jualan stroberi ,ceemoro sewu Setelah menikmati suasana di Cemoro Sewu, kita langsung turun menuju Sarangan. Jalannya bagus, berbelok-belok sehingga tidak terlalu terjal seperti jalan lama. Kiri kanan berupa hutan tropis dan tidak berapa lama akan terlihat Sarangan plus telaganya dari kejauhan. Makin mendekat, kita bisa mampir telaga Sarangan, tapi  masuk daerah tersebut harus bayar karcis. Di Telaga, kita bisa naik perahu/speed boat, makan sate kelinci dan mungkin juga bisa berenang.  Banyak hotel dan losmen, salah satunya hotel Sylverwin yang mungkin masih dimiliki keluarga alm. dr Thahir  (bapak dari alm.Sylvy dan Erwin) dari garis keluarga Eyang Sandang.

riset tanaman obat,cemoro sewuSetelah Sarangan juga ada kebun stroberi (bisa petik sendiri), kemudian telaga pemancingan (telaga Wahyu), dan selanjutnya setelah melalui Plaosan dan Ngerong, kita akan sampai di Magetan. Jalan di sini agak membingungkan, karena kalau tidak cermat kita akan terus ke Madiun melalui Maospati, padahal untuk ke Balerejo lebih dekat lewat Gorang-gareng.

Dari Gorang-gareng, setelah 30 menit kita sampai di Balerejo. Di Balerejo, kita bisa menginap di Dalem Kulon, Dalem Tengah dan mungkin Dalem Wetan.

ruang serba guna, dalem kulon
Balerejo

Yang menonjol di sini adalah rumah Joglonya, yaitu Dalem Kulon, yaitu cukup besar. Pekarangannya juga luas dengan berbagai tanaman, seperti pohon Sawo, Mangga, Asem raksasa tua, pohon kepel, dan tanaman hias/bunga. Di belakang ada Sendang, yang sayangnya kalau musim kemarau airnya kering. Di sekitar Dalem Kulon dan Wetan terdapat lahan Sawah yang dikelola RKM. Cukup luas dan semua ditanami padi yang hasilnya merupakan gabah yang dikelola menjadi gabah benih. Maksudnya gabah tersebut dikeringkan hingga kadar air benih (10-11%), dikemas dalam plastik 5 kg, dan diberi sertifikat lulus kwalitas benih yang bisa dijual ke para petani. Sertifikatnya diperoleh dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), yang sebelumnya selalu memonitor (resmi) ke lapangan, yaitu sawah sawah RKM, dari tanam hingga panen.
pasar ini nempel di lahan rkm. gudang baru dan dalem wetan dari samping lahan di trayun wetan
lagi tanam di tegal onderan (dalem etan) Kalau ingin dengar cerita-cerita tentang Eyang-eyang ataupun tentang kegiatan RKM, kita bisa bertanya pada Ibu Yun, yang saat ini mengelola seluruh kegiatan RKM di Balerejo dan Dalem plus makam.

Di dalem Kulon pun ada banyak buku, peninggalan Eyang-eyang, foto-foto, mebel kuno dan lain-lain. Di dalem Wetan, ada gudang benih padi, pengolahan benih padi, lantai jemur dan lain-lain yang dikelola oleh pak Zainul. Kita bisa tanya apa saja kepada pak Zainul khususnya di bidang pertanian RKM.

Demikian kira-kira sedikit catatan bilamana kita hendak jalan jalan ke Balerejo. Semoga bermanfaat.

Otty, 7 desember 2014 (updated 3 des. 2015)

1 tanggapan pada “LIBURAN KE BALEREJO”

Tinggalkan Balasan