Tumbuh Bersama dengan Benih

29 November 2017, pertemuan diadakan dengan ketua-ketua kelompok tani seluruh kecamatan Balerejo yang berjalan lancar dan menarik. Kehadiran sekitar 72 orang, dengan 12 diantaranya perwakilan dari Dinas Pertanian setempat, menunjukkan antusiasme warga atas pertemuan ini, padahal hujan turun sejak pagi. Harapan yang dihasilkan dari pertemuan ini ditujukan untuk perkembangan penjualan benih yang dihasilkan tanah Balerejo kita. 

Hubungan jual beli bukan tujuan utama dari pengelolaan yang dilakukan oleh Yayasan Raden Mangundihardjo (YRM), sebagaimana dikatakan oleh Ketua YRM Kamala Chandrakirana, “Kita bangun hubungan yg multi-dimensi dengan calon pembeli dan pemerintah: sharing pengetahuan, ikatan batin lewat makan & pendopo, selain relasi jual beli. Hebat! Semoga pintu terbuka lebar bagi kita.” Seperti yang juga dikatakan oleh Thomas Jefferson, “knowledge is power”, yang percaya pengetahuan adalah dasar pendirian republik dengan individu yang bebas dan bertanggungjawab yang memahami hak-haknya serta mampu membela haknya tersebut. 

Penangkaran benih, memang merupakan filosofi yang dipertahankan keturunan Eyang Mangunarso dalam pengelolaan lahannya. Tanah yang diwariskan turun temurun ini tidak diperkenankan dibagikan ke para keturunannya dan harus dikelola untuk kepentingan masyarakat sekitar dan keluarga yang tinggal di dalamnya. Filosofi yang mementingkan kepentingan orang banyak daripada diri sendiri. Upaya menjadi penangkar benih adalah pertanda bahwa peran RKM bukan di ranah konsumtif tapi menyasar poros yang lebih inti dan mendasar sebagai sumber penghidupan.

RKM sesungguhnya telah mulai menangkarkan benih sejak pada permulaan berdirinya, yaitu tahun 1964. Waktu itu sudah ada varietas unggul  tahan wereng (VUTW) yaitu PB-5, PB-8. RKM mendapatkan benih dasar (FS = Foundation Seed atau Benih Dasar/ BD) dari IRRI (International Rice Reseach Institute)- Los Banos – Filipina. Sayangnya saat itu belum ada sertifikasi di Indonesia. Yang membina hubungan dengan RKM saat itu adalah seorang ahli pertanian USAID, FJ Bell, yang saat itu sedang bekerjasama dengan Balai Penelitian Pertanian- Cimanggu, Bogor.

Barulah di tahun 1983, RKM menjadi penangkar benih bersertifikat. Tahun 1983 – 1986 RKM dikenal sebagai salah satu penangkar yang terbaik kwalitasnya. Oleh Bupati Madiun dan BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih), RKM dinyatakan sebagai petani dan penangkar benih andal. Kemudian di tahun 1997, RKM dinyatakan mampu memproduksi kwalitas SS (yang saat itu hanya BBI/BBU yang memproduksi). Bahkan dinyatakan bisa memproduksi FS-1. Tetapi ternyata FS-1, sulit menjualnya, sehingga RKM fokus memproduksi SS sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan